Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2015

Cerpen: Cinta

Lagi-lagi siang hari yang terik menyerang kota Jeddah dengan dahsyatnya. Bukan hal yang aneh. Itu sudah biasa terjadi, apalagi di musim haji seperti ini. Kulit terasa terbakar dan tenggorokan berubah jadi sangat kering jika berlama-lama ada di luar ruangan. Seorang pria bernama Javed dengan sabar menunggu angkutan umum yang biasanya lewat setiap satu jam sekali. Ia rela bergulat dengan panas demi pulang ke rumahnya di desa. Pendidikannya kini telah ia rampungkan. Hari esok adalah bekerja, pikirnya. Sudah berkali-kali ia sapu keringat yang membanjiri dahinya dengan sapu tangan lusuh berwarna biru pemberian sang ayah. Tapi, kenapa angkutan belum juga datang? Ia mulai bosan dengan debu-debu yang beterbangan di depan matanya. Ia tutup wajahnya dengan kitab favoritnya semasa di sekolah. Ia tidak tahu lagi apa yang mesti dilakukannya dengan uang pas-pasan yang hanya cukup untuk biaya pulangnya. “Tidak akan cukup jika aku membeli sebuah roti,” gumamnya dalam hati.    ...

Bagaimana Menentukan Pilihan & Mensyukurinya

Oh, baiklah. Bertemu lagi dengan saya yang selalu hadir di saat yang tepat ini. Kali ini saya akan membahas sebuah hal yang mungkin sering kita alami dalam hidup, atau bahkan jadi masalah wajib bagi setiap orang. Jadi, mari kita mulai… Sista dan Brothe semua pasti sering berjumpa dengan pilihan, kan? Silakan dijawab: A.     Jika IYA , maka silakan Anda lanjutkan membaca B.      Jika TIDAK , maka berhentilah membaca, atau tinggalkan halaman ini.. haha >_< enggak lahhh, saya nggak sekejam itu kokk :p Dalam hidup, pasti kita selalu dihadapkan oleh suatu masalah, entah itu masalah yang berkaitan dengan pilihan, masalah yang dihadapkan pada kewajiban, atau masalah yang menjadi penghalang kita melaksanakan tujuan kita. Tapi, dari pengamatan yang saya amati (kalimat tidak logis, hehe) kebanyakan orang banyak yang frustasi dengan pilihan yang mengahadang mereka. Ketika menghadapi pilihan, jujur saja, biasanya kita akan minta b...

Cerpen : Lentera

Aku dan Pomo duduk di rel kereta api dengan santainya. Menikmati pemandangan senja kota metropolitan. Cahaya orennya menyejukkan hati. Ditambah siluet bangunan pencakar langit yang kokoh jauh di seberang menjadikan sore yang bising jadi menyenangkan. Pomo bilang relnya panas di pantatnya, jadi dia duduk di batuan di pinggir rel. Sedangkan aku, yang meski sudah Pomo peringatkan, tetap saja duduk di rel. Aku jarang mematuhi ucapannya. Baru jika aku kena batunya, aku minta maaf pada bocah itu. Eh, maksudku laki-laki yang sepuluh tahun lebih tua dariku itu. Tak beberapa lama. Pomo mengeluarkan isi kresek yang sejak tadi dibawanya. Aku sih menduganya mencuri baju lagi. Benar saja, setelah dibeberkannya, ada empat potong baju baru seperti biasa. Kami saling berbagi. Meskipun itu curian, ahh.. entahlah. Pomo memang ahli!             Hampir mendekati maghrib, harusnya kami pulang ke bedeng kami yang tidak seberapa jauh dengan rel ker...

Cerpen : Besan

            “Mama kenapa, Ma?” tanya Reka padaku. Aku masih meraba bingkai foto kecil yang kuberikan pada Reka sebulan yang lalu. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum. Tidak hentinya kupandangi benda yang tidak lebih besar dari buku tulis itu.             “Pasti ini kenangan..”             Aku menatapnya. “Iya, Cuma kenangan. Ini bukti Mama pernah seperti kamu juga.” Kali ini giliran Reka yang tersenyum.             “Aku tau, Ma. Di belakang bingkai ini ada namanya kok. Inisialnya WB.”             “Udahlah. Sekarang Mama lebih cinta Papamu kok. Jangan dibahas lagi, Ka,” kataku sambil meninggalkan kamarnya. Aku melongok jam dinding. Masih pukul delapan saat kudapati Farhan datang menjemput Reka yan...

Baca postingan populer lainnya

6 Hal Sederhana yang Akibatnya Fatal Kalau Sampai Kita Lupa