Aku
mengintip mereka dari balik jendela tua kamarku. Di bawah hujan salju mereka
berbincang. Tampak raut ketegangan di wajah keriput mereka. Pak Ward tampak
bersikeras dengan pendapatnya dan Papa tetap pada pendiriannya yang tidak mau
memindahakan patung kucing di taman depan rumah. Menurut Pak Ward
patung itu membawa kesialan baginya. Menurutnya pula semenjak keluargaku
memasang ‘si kucing’, di rumahnya sering ada hal-hal aneh, seperti bayangan
besar kucing di kolam renang Pak Ward, meongan kucing yang mengganggu di
kamarnya, serta bekas noda kaki kucing di baju-bajunya. Aku tak mengerti sama
sekali.
Sehari setelah pertengkaran Papa dan
Pak Ward, Merry, putri Pak Ward yang juga sahabatku, mulai bersikap dingin
padaku. Setiap aku tersenyum dari jendela kamarku, ia tidak membalasnya. Bahkan
ia membanting jendela kamarnya di hadapanku.
“Merry, kau kenapa?” gumamku dalam
hati.
Pagi ini salju menumpuk di jalan
depan rumah. Papaku harus membersihkannya lagi. Tampak lebih tebal dari hari
sebelumnya. Mama menghampiriku yang masih asyik melongok pemandangan di luar
jendela. Ia menepuk pundakku, sambil berkata, “Kau harus berangkat sekolah,
Jean. Mama sudah siapkan sarapan dan bekalmu.” Aku mengangguk. Mama memakaikan
kemeja putih dan rok merah kotak-kotak padaku. Terakhir, dipakaikannya dasi
merah kesayangannya di kerah bajuku.
“Hari ini kau harus menyisir
rambutmu sendiri, Sayang.. Mama harus ke tempat Merry,”
“Ada apa, Ma?” Mama diam. Aku
berlalu menyisir tiap helai rambut ikalku karena kupikir Mama hendak memberi
roti pada Merry seperti biasa.
Aku menyalami Mama dan Papa. Mereka
tampak berbeda. Mereka juga tidak menciumku. Saat kusentuh tangan mereka,
rasanya sangat dingin. Aku sempat mengalami efek kejut dan hampir menggigil.
Mereka tak mengucapkan sepatah kata pun saat aku mulai melangkah keluar rumah.
Tak seperti biasanya.
Waktu berlalu begitu cepat. Di kelas
tak ada cerita yang bisa kuingat. Aku malas mengingatnya. Aku berjalan pulang
dengan hati riang. Berbeda dengan keadaanku di sekolah sebelumnya. Jalanan
tampak lengang. Aku bisa memandangi took roti Uhu dekat rumah sampai puas. Hal
yang jarang sekali bisa kulakukan selama ini.
Kubuka pintu rumah. Hanya ada kakek
yang sedang tidur di sofa ruang tamu. Aku kembalu ke luar, menatap lekat patung
kucing berwarna coklat emas di depan rumah. Wajahnya menyiratkan kesan marah
dan terganggu. Tatap matanya seakan ingin menerkamku tiba-tiba. Aku menutup
mata dan menjerit. Rupanya hal itu membangunkan kakek.
“Oh, Jean. Di mana ibumu? Aku
mencarinya kemana-mana, tapi tak ada?” gerutu kakek.
“Aku baru saja sampai. Pagi tadi
mereka masih bersamaku. Mungkin mereka sedang ke kebun memetik beberapa apel,”
sahutku kemudian.
“Apa besok aka nada perayaan?” tanya
kakek lagi. Aku menggeleng. Ulang tahunku tentu akan sepi, Papa tak memiliki
banyak uang untuk menyewa tukang dekorasi. Itu karena apel-apel di kebun gagal
panen akibat salju turun lebih awal. Musim dingin seakan mengejar musim
sebelumnya. Dan bagiku itu menyebalkan.
Kakek menyalakan api unggun di
perapian ruang tengah. Ia memanasi sepanci sup yang Mama buat pagi tadi. Aku
mengganti pakaian. Kukenakan sweater merah dan celana jins biru, serta topi
rajutan pink buatan Mama. Kakek menggerakkan tangannya agar aku mendekat di
pangkuannya.
“Kakek, minggu depan aku menerima
rapor. Jika aku berhasil mendapat peringkat 1 di kelas, apa yang akan kau
berikan?
“Aku akana mencubit pipi merahmu!”
jawaab kakek cepat. Aku merajuk. Kakek lalu menggelitiki perutku. Aku meras
geli, hingga tertawa keras dan sesekali menjerit. Kami larut dalam canda tawa
siang itu.
Terdengar suara pintu diketuk. Kakek
menurunkanku dari pangkuannya. Ia beranjak dari tempat duduknya. Aku
menghadang, “Biar aku saja yang membukanya,” kataku lirih sambil merunduk
girang.
“Mama! Papa!”
“Lihat, apa yang aku bawa?” tanya
Papa padaku.
“Apel? Ahh…aku bosan!”
“Kau tak boleh seperti itu, Jean… Di
luar sana masih banyak orang-orang yang bahkan makan pun sulit, apalagi untuk
membeli sebuah apel dan memakannya,” kata kakek memberiku pengertian. Aku
cemberut dan masuk kamar. Mama dan Papa meletakkan apelnya di dekat perapian.
Mungkin setelah itu mereka minum coklat panas bersama. Aku kembali mengintip
dari jendela seperti biasa. Kulihat Pak Ward berjalan menuju rumahku sambil
membawa pistol kecil di tangannya. Aku jadi sangat gemetar. Aku langsung
bersembunyi di bawah tempat tidurku.
“Keluar kau, Bill! Cepat!” seru Pak
Ward garang. Aku tahu pasti Papa sedikit ketakutan mendengarnya. Setelah
beberapa menit Papa keluar bersama Mama dan kakek. “Ada apa, Pak?” tanya Papa.
“Pindahkan patung ini ke tempat di mana tak seorang pun bisa menemukannya,
sekarang juga! Pindahkan sekarang atau kalian kutembak satu persatu!” Nada
bicaranya meninggi. Itulah yang bisa kudengar. Aku tak tahu lagi apa yang
terjadi.
“Ward, ayolah… ini hanya sebuah
patung! Mana mungkin patung ini bisa bergerak. Coba kau angkat. Keras!”
“Aku tidak peduli dengan bualanmu
itu, Bill! Putriku dikejar sesuatu miri kucing pagi ini. Ia terjatuh dari
tangga dan koma sekarang! Apa kau masih menyangkalnya?!” bentak Pak Ward lagi.
“Jadi aku tidak mau tahu, kau harus memindahkannya!”
Kali ini aku penasaran dengan yang
terjadi di luar. Aku kembali mengintip dari balik jendela, dan tercengang
ketika mendapati pemandangan yang tak wajar. Pak Ward dengan beraninya menodongkan
pistol tdi ke kepala Papa. Akhirnya Papa pergi dengan Pak Ward menggunakan
mobil kami. Jauh mereka melaju entah kemana. Mama terisak di pelukan kakek.
Kakek tampak pucat dan gemetar. Aku melangkah keluar kamar, melewati pintu
utama dan menghampiri Mama. Aku memeluknya. Mama berbaring di atas tempat
tidur. Pandangannya kosong. Aku ikut berbaring di sisi kirinya. Mama menatapku.
Matanya berkaca-kaca. Ia lalu menyentuh pipiku.
“Aku tak tahu harus berbuat apa,
Jean. Pak Ward adalah sahabat ayahmu. Ia telah banyak menolong keluarga kita.
Kita berhutang budi banyak pada keluarganya dan Pak Ward khususnya. Tidak
mungkin kita melaporkannya ke polisi atas tindakannya yang aneh dan brutal. Aku
benar-benar tak mengerti dengan yang sedang terjadi. Kupikir Pak Ward gila. Ia
aneh, tuduhan yang ia tujukan pada kita terlalu konyol untuk dinalar. Semua ini
terkesan dibuat-buat. Apa mungkin penyebab keanehan ini adalah karena kepergian
istrinya 3 minggu lalu?” Mama diam sejenak. Menatap langit-langit. Dan kulihat
air mengalir dari sudut matanya, turun menetes melewati telinga. Beberapa helai
rambutnya basah sedikit.
“Mama…jangan menangis…” Aku mengusap
air matanya.
Seulas senyum terlukis di sudut bibir mungilnya. Mama selalu terlihat cantik saat tersenyum. Bahkan itu jadi hal favoritku dari seorang Mama. Meski bibirnya senyum mencoba merubah suasana hatinya, tapi matanya tidak bisa membohongiku. Ia masih sangat cemas dan bingung.
Seulas senyum terlukis di sudut bibir mungilnya. Mama selalu terlihat cantik saat tersenyum. Bahkan itu jadi hal favoritku dari seorang Mama. Meski bibirnya senyum mencoba merubah suasana hatinya, tapi matanya tidak bisa membohongiku. Ia masih sangat cemas dan bingung.
Sekitar pukul setengah enam sore
terdengar suara klakson mobil di depan rumah. Itu bukan suara mobil Papa. Kakek
mengintip lewat lubang pengintai di pintu. “Bill!” pekiknya gembira sambil
segera memutar gagang pintu. Kakek membiarkan Mama memeluk Papa terlebih dulu.
“Sayang, kau pakai taksi?” tanya
Mama heran. “Ward merampas mobilku. Ia pergi entah kemana. Tapi ia berteriak
padaku, ia akan kembali,” jawab Papa sedikit menggigil. Kakek menyuruh Papa
cepat masuk. Ditutupnya pintu kayu yang mulai usang dimakan waktu. Selang
beberapa menit, kakek mohon diri untuk kembali ke rumahnya yang terletak 2 blok
dari rumahku.
Terakhir yang kuingat dari Pak Ward
adalah ketika ia membawa mobil Papa kabur. Yang kutahu itu adalah 2 hari yang
lalu. Mama membiarkanku bangun siang dan bolos sekolah. Itu selalu kulakukan
setiap tahunnya. Seperti ritual. “Aku selalu senang di hari itu, meski umurku
berkurang satu tahun,” itulah yang pernah dikatakan mendiang kakakku saat
cairan merah mengalir dari hidungnya, dimana di hari itulah terakhir aku
mengenal dan melihatnya di dunia ini. Hari ulang tahunnya yang ke-4 hanya selisih
3 hari dengan hari lahirku. Jadi aku delalu mengingatnya.
Kicauan burung sungguh menggangguku.
Ia seperti berkicau di telinga. “Ahh…berisik!” gerutuku sambil menutup telinga
dengan bantal.
“Jean, kau takkan melewatkan
saat-saat ini, kan?” tanya Mama yang tiba-tiba ada di samping tempat tidurku.
Aku mengernyitkan dahi dan menaikkan alis kananku. Mama tertawa lebar. Ia
menggendongku menuju ruang tamu.
“Apa kau suka dekorasinya, Sayang?”
tanya Mama padaku. Aku mengangguk. Kulihat Papa masih melanjutkan dekorasinya.
Sederhana, tapi indah, pikirku. “Kita akan adakan pesta kecil-kecilan nanti
malam, Jean,” kata Mama sambil menurunkanku dari punggungnya.
“Apa Merry diundang?” tanyaku
penasaran.
“Kau kan tahu, dia sedang koma.
Hingga kini pun ia belum sadar,” sahut Papa menjawab tanyaku.
Betul juga. Aku sangat sedih
mengetahui Merry tak bisa bergabung di acara ulang tahunku. “Cepat sembuh ya,
Merry. Aku ingin segera bermain lagi bersamamu…” ucapku dalam hati.
“Tapi kakek akan datang, Sayang…
Jangan bersedih ya..” kata Mama mengalihkan. Aku tersenyum getir.
Malam tiba. Langit dihiasi kabut
putih salju yang turun dengan lebatnya. Mama memakaikan sweater merah
kesukaanku. “Sekarang pejamkan matamu, Jean,” kata Papa lirih. Mama mematikan
semua lampu di ruangan. Aku menutup mata. Beberapa menit kemudian Papa
membisikiku, “Buka matamu, Sayang…” Kubuka mata. Dan…”Surprise!” Kakek ada di
depanku membawa sebuah kue cantik bertuliskan ‘Happy Birthday Jennifer’. Aku
meloncat girang. Mama dan Papa bertepuktangan menyanyikan lagu Selamat Ulang
Tahun. Tiba-tiba terdengar kegaduhan di depan rumah. Pandangan semua orang yang
berada di ruang tamu tertuju ke arah kegaduhan itu. Seseorang menggedor pintu
kasar. Aku sangat takut. Aku berlari ke kamar, bersembunyi di lemari dengan
gemetar. Dari balik lemari, aku hanya bisa mendengar sambil menerka-nerka apa
yang sedang terjadi. Baru saja kedengar suara pintu didobrak, lalu suara kakek
yang sempat beradu argument dengan Pak Ward, kemudian suara benda jatuh dua
kali, serta rintihan Mama yang mencekam menyiksa setiap orang yang mendengar.
Aku menangis sambil menyumpal mulutku dengan menggigit pakaian yang tergantung
di depanku.
“Kalian pikir kemarahanku karena
patung kucing itu?! Haha, tidak sama sekali! Itu karena aku merasa tidak adil
atas apa yang telah Tuhan berikan padaku. Ia mengambil semua yang kupunya,
sedangkan kalian, kalian sangat bahagia. Kalian begitu dekat dan tidak seperti
keluargaku. Aku iri pada kalian. Tuhan jahat padaku. Tuhan hanya baik pada
kalian. Kenapa?! Kenapa?!” seru Pak Ward murka. Sekali lagi, suara rintihan
Mama dan Papa sangat jelas di telingaku.
Selang beberapa waktu, keadaan
berubah jadi hening. Tanpa suara sedikit pun. Seperti malam terdingin di tengah
badai Perang Dunia II yang pernah kami lewati di rumah ini. Kami hanya
berbaring dan diam ketakutan. Seperti itulah senyapnya. Aku yakin Pak Ward
telah pergi setelah dentuman langkah yang menjauh. Aku keluar kamar, mencoba
melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang telah terjadi. Mama dan Papa
menangis. Mereka tampak sangat lemah. Pakaian Mama dan Papa berubah jadi merah
pekat. Lantai juga jadi merah. Mama tak sengaja melihatku yang berdiri linglung
tepat di depan pintu kamar. Ia menatapku gembira meski tergambar jelas rasa
sakit yang amat dahsyat di tubuhnya. Spontan aku gemetar. Mataku berubah jadi
panas. Langkah kakiku memberat di ujung jari. Aku hanya diam. Terpaku. Shok.
Pandanganku mulai kabur digenangi air mata. Melihat Mama dan Papa yang duduk
bersimpuh menahan sakit, menambah guncang jantungku. Ia berdegup sangat keras.
Mama meraih kue ulang tahun berhias
lilin yang tinggal separuh. Tangan kiri Papa memegang pundak Mama, dan tangan
kanannya menggenggam erat pakaian yang ia gunakan untuk menahan cairan merah
itu. Mama dan Papa tersenyum padaku. Sungguh, mereka tersenyum! Aku bisamelihat
gigi-gigi mereka meski keadaan gelap dan hanya dihiasi cahaya lilin.
“Mendekatlah, Jean… Kita..ha..rus melanjutkan..nya bukan? Ka..mi tak ingin
mengecewakanmu, Sa..sayang..” ucap Mama terbata-bata. Aku melangkah perlahan,
berdiri di hadapan mereka.
“Mama.. Papa…” ucapku gemetar
diselingi air kesedihan.
“Buat permohonan, lalu tiup
lilinnya, Nak…”
Aku mengangguk pelan, menyatukan
kedua tanganku. Kupejamkan mata. Aku berdoa semoga Mama, Papa, dan kakek selalu ada bersama di
sisi untuk melihatku meraih cita-cita. Terakhir, kutiup lilinnya. Mama dan Papa
meletakkan kembali kue ulang tahunku di atas meja. Mereka berbaring lemas
berjajar. Aku mengambil tempat di antara mereka. Kugenggam erat kedua tangan
mereka yang mulai dingin.
“Mama hanya lelah, Sayang. Jaga
dirimu baik-baik ya, Jean…” Mama menutup matanya, begitupun Papa. Dan kakek
yang hanya terdiam di pinggir tembok. Ia duduk lemas bersandar di tembok.
Mengapa mereka mengantuk lebih cepat di hari ulang tahunku ini? Bukankah mereka
telah berjanji akan mengahabiskan malam dengan makan apel dan krim kue yang
sudah mereka buat? Mereka sudah berjanji akan merayakannya bersamaku!
“Mama..Mama..aku takut gelap..
Papa..bisakah kau nyalakan lampunya? Atau Kakek, bisakah kau nyalakan lagi
lilinnya? Mama..”
Hanya hening dan gelap yang
menjawab. Dingin kian menusuk tubuhku. Tiba-tiba ponsel Papa berdering. Aku tersentak. Aku hanya
memandangnya penasaran. Menunggu beberapa saat hingga Papa mengambilnya. Tapi
dering tetap dering. Papa masih mematung. Tidurnya pulas kurasa. Aku terpaksa
lancing merogoh saku bajunya. Kuambil ponsel yang bergetar-getar sejak tadi.
Panggilan dari Dessy, nenek tiriku. Aku mengangkatnya.
“Halo, Bill… Bagaimana perayaannya?
Apa David masih di rumahmu?”
Aku masih diam.
“Halo, Bill? Bill? Halo?” tanya
Dessy sekali lagi.
“Ha..halo?” jawabku gagap.
“Ap..apa ini Jennifer?”
“Ya, Dessy. Ini aku, Jennifer. Emm..
Dessy..bisakah kau datang kemari? Aku takut gelap..” tuturku memohon.
“Apa ayahmu tidak menelepon petugas
listrik daerah? Apa kau sedang sendirian, Jean? Atau kau sedang tidak di
rumah?!” tanya Dessy memberondong. Nada bicaranya terdengar makin cemas.
“Tidak.. aku tidak sendirian. Aku
juga tidak sedang di luar rumah. Di sini ada Mama, Papa, dan kakek. Tapi mereka
mengantuk, mereka tidur. Aku tak bisa membangunkan mereka. Bisakah kau datang
kemari menyalakan lampunya dan membangunkan mereka semua? Aku mohon, kemarilah…”
“Aku tidak mengerti dengan yang kau
bicarakan, Jean. Baiklah kalau begitu. Aku akan segera ke sana.” Dessy sedikit
menggerutu lalu menutup sambungan teleponnya.
Tak dapat dipungkiri bahwa hawa
dingin yang masuk melalui koyakan pintu telah membuat bibirku jadi sedingin es.
Salju-salju mulai masuk ke dalam rumah dan berganti warna menjadi merah. Aku
mengamatinya yang perlahan menebal. Kupeluk tangan kanan Mama. Dingin sekali.
Bau amis dimana-mana. Rasanya aku seperti berada di pasar daging. Bau yang
paling kubenci ada di sana. Tapi kini bau itu juga menyambangi rumahku. “Mama,
Papa..ayo masuk ke kamar. Kalian sangat dingin. Apa kalian tidak takut sakit?”
tanyaku heran. Mereka masih membisu. Tak lama Dessy datang. Ia heran melihat
pintu depan rumahku yang koyak sisinya. Kutahu ia mempercepat langkah kakinya.
Ia melangkah masuk menuju ruang tamu, kemudian memanggil namaku. Aku menyahut
pelan. Ia segera menyenter wajahku dengan cahaya ponselnya. Seketika Dessy
menjerit dan terduduk gemetar melihat Mama dan Papa yang juga terkena biasan
cahaya ponsel Dessy. Ia juga sempat menyoroti kakek dengan cahaya itu. Aku
heran padanya.
“Dessy.. Jangan berteriak, nanti mereka
bangun…” desahku lirih sambil menekan telunjukku di bibir. Dessy tampak tak
senang melihatku. Ia malah lari terpontang-panting menjauhiku. Apa sih yang
terjadi? Pikirku.
Sekitar sepuluh menit kemudian,
sirine polisi berhenti tepat di depan rumahku. Ya Tuhan, apa Dessy melaporkanku
ke polisi? Apa yang sudah kulakukan? Apakah aku berbuat kesalahan? Aku
menghitung suara sirine yang datang kira-kira ada empat atau lima mobil
termasuk ambulans. Seorang pria bejaket hitam dan berkumis tebal mendekatiku. Aku
tak tahu yang terjadi selanjutnya karena yang kulihat semua jadi gelap setelah
ketakutanku memuncak.
~~
@@@ ~~
Sepuluh tahun kemudian.
“Sweet seventeen!” sorak anak-anak
dari belakang.
“Selamat ulang tahun ya, Jean...”
“Selamat ulang tahun Jennifer…”
“Hay, Jean..selamat ulang tahun
yaa…”
Sebuah kue ulang tahun ada di
hadapanku. Mark, salah satu sahabatku di SMA membawakannya untukku. Spesial
nampaknya. “Ini untukmu, Jean. Buat permohonan!” pinta Mark lembut. Aku
mengangguk ragu. Kupejamkan mata perlahan. Sekelebat bayangan menyeramkan di
malam itu kembali menghampiri. Aku menjerit.
“Jean, apa kau baik-baik saja? Ada
apa?” tanya Mark menahan tubuhku yang hendak ambruk. Ia lalu memegangiku.
“Ak..aku… aku hanya… Bisakah kau
antar aku pulang, Mark? Aku merasa tak enak badan.”
“Bb..baiklah.. Emm..bagaimana dengan
kuenya?” tanya Mark bingung.
“Kalian bisa memakannya…” jawabku
pada sahabat-sahabatku yang lain. Mereka tampak kecewa. Tapi apa mau dikata?
Aku tidak sanggup melawan ketakutanku! Maafkan aku, Kawan. Hal yang demikian
itu telah menghantuiku selama bertahun-tahun. Aku sudah mencoba melawannya,
tapi begitu sulit! Bayangan itu menerkamku setiap kutiup lilin bertahun-tahun
setelah terapi psikologiku dulu. Tetap. Aku tidak akan pernah lupa terakhir aku
melihat Mama dan Papa hidup, dan terakhir kali kudengar suara mereka berdua
yang menyayat hati. Cintaku mungkin kandas bersama genangan salju merah di hari
ulang tahunku. Mungkin juga cintaku telah terkubur bersama jasad Mama dan Papa
di pemakaman dulu. Jadi jangan paksa aku. Biarkan hari ulang tahunku berlalu
tanpa seorang pun merayakannya. Biarkan aku berlalu dan meninggalkan kejutan
kalian. Maaf.
Mobil yang dikendarai Mark melaju
kencang. Menyusuri setiap inci jalan raya menuju rumah Dessy, tempatku tinggal
sepuluh tahun belakangan. Sesampainya di sana, kulihat Dessy dan salah satu
putrinya, Chloe sedang mengikat tumpukan koran-koran lama. Mungkin ia ingin
menjualnya pada tukang loak yang sejak aku datang telah berdiri di depan rumah.
Aku kemudian keluar dari mobil. Mark hendak mengikutiku, tapi aku menolaknya.
Ia lalu berpamitan padaku dan memutar balik kendaraannya, melesat jauh ke sudut
kota.
“Apa kau ingin menjualnya, Dessy?”
tanyaku datar sambil menimbang-nimbang satu eksemplar koran yang tercecer.
“Ya…ini sudah memenuhi gudangku.
Sudah lama sekali aku tak menjualnya.”
“Sebanyak ini?!” tanyaku lagi.
Aku sangat heran. Butuh waktu
bertahun-tahun untuk mengumpulkannya. Aku memutuskan untuk membantunya. Ia
terlihat sangat senang. Tanpa sengaja aku membaca judul berita di halaman
pertama, ‘Pembantaian Satu Keluarga—“KEJAM!”’. Aku membaca baris selanjutnya.
Pemabantaian satu keluarga yang terjadi
di wilayah Newcastle pada 22 Desember 2004 telah menggemparkan warga. Korban
tewas antara lain: Anna Hammer (32), Patrick Hammer (35), dan David Resenbolt
(65). Dalam peristiwa ini, seorang bocah bernama Jennifer Scraafh (7)
dinyatakan selamat. Ia ditemukan bersama mayat kedua orang tuanya saat Dessy
Oliver (51) datang ke rumah korban setelah diminta datang oleh Jennifer yang
tidak mengerti perihal keadaan orang tuanya. Jennifer yang saat ini tengah
berada di Balai Penyembuhan Mental Pusat Santiago belum bisa dimintai
keterangan karena kondisinya masih terguncang akibat peristiwa tragis tersebut.
Pihak kepolisian telah melakukan olah
TKP dan hasilnya ditemukan bekas koyak di pintu utama yang mirip dobrakan kaki
orang dewasa. Polisi menyimpulkan bahwa bukan Jennnifer pelakunya. “Jelas ini
tindakan orang dewasa,” tutur Riley Bright, kepala polisi sektor 6. Selain itu,
bekas pukulan menguatkan simpulan ini. “Tidak mungkin seorang bocah bisa
menghajar orang dewasa tanpa ada kekerasan fisik di tubuh bocah itu,” lanjut
Riley menerangkan.
Motif pembunuhan ini diduga karena
dendam pribadi. Sayangnya hingga kini pembunuh keluarga yang malang tersebut
belum berhasil ditangkap. Polisi masih memburu pria tetangga korban yang
disinyalir merupakan pelakunya. (24/12/04)
Aku
meremas kertas koran lain yang juga sedang kugenggam. Aku menyobek berita itu
dan menyimpannya. Kuhapus air mata yang tanpa kusadari telah mencapai dagu.
Dessy menatapku heran.
“Ada
apa. Jean? Apa yang barusan kau baca?” tanyanya. Aku menggeleng lalu tersenyum
lebar.
“Aku
memang tidak bisa menceritakan hal-hal itu pada polisi. Mungkin jika aku mau, mereka
akan langsung menangkap dan mengadilimu. Tapi lihat, aku akan menangkap dan
menghabisi psikopat sepertimu dengan tanganku sendiri, Ward. Ya, pasti!” ucapku
dalam hati.
Cerita lain: Remember Me
~~ THE END ~~
* Pengunjung yang baik selalu menyertakan komentarnya yang bersifat membangun
* Jika ingin menyalin sertakan link yaa
* Terimakasih telah berkunjung
* Jika ingin menyalin sertakan link yaa
* Terimakasih telah berkunjung
Comments
Post a Comment
Komentarlah dengan sopan. Tidak mengandung SARA. Komentar yang berisi link aktif akan dihapus dan dianggap sebagai spam